AYAM HUTAN TANGKAPAN

AYAM HUTAN TANGKAPAN

Di media sosial facebook kembali ribut masalah jual-beli ayam hutan tangkapan dewasa hutan. Seperti biasa, keributan muncul dipicu oleh status seorang pengguna facebook yang menyoal banyaknya group yang menggunakan nama “Pelestari” namun membiarkan anggotanya melakukan transaksi jual-beli ayam hutan tangkapan dewasa fresh hutan. Memang masuk akal, sebab bagaimana bisa sebuah group pelestari namun isinya sebatas jual-beli dan bahkan kebanyakan yang dijual adalah ayam hutan hasil tangkapan dewasa hutan. Jika ini dibiarkan terus menerus, tidak menutup kemungkinan ayam hutan akan segera habis dari habitat aslinya di lokasi/daerah tertentu.

Di sisi lain, ayam hutan yang dipiara di kandang terbatas juga dikawinsilangkan semau yang peunya tanpa recording yang jelas. Tanpa data, tanpa aturan dan terkesan ngawur, yang penting dikawinkan begitu saja entah dengan ayam jenis apa dan hasilnya dijual entah kemana. Yang lebih disesalkan lagi, banyak telor ayam hutan yang dikirim ke luar negeri. Padahal telor itu bukan hasil breeding, namun hasil berburu dari para petani di sekitaran hutan. Tak hanya telornya saja, seringkali ayam hutan hasil tangkapan hutan juga dikirim ke luar negeri yang jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan ekor banyaknya.

Lalu salahkah jika dintara para pencinta, penggemar dan pelstari memprotes akan hal ini? Kita tahu bahwa di negara kita sendiri belum banyak yang bisa menangani ayam hutan secara maksimal. Banyak ayam hutan yang dipiara oleh para pemula dengan kandang yang alakadarnya saja. Padahal memelihara dan menjinakkan ayam hutan dewasa fresh tangkapan hutan itu bukan hal yang mudah dan sederhana. Ayam hutan jantan masih bisa dididik dan dikelola, namun jika ayam hutan betina, bisa stress kita dibuatnya. Dia akan kelabakan seperti kesetanan saat melihat manusia. Tanpa pengaman, tak butuh waktu lama, bisa-bisa pecah kepalanya hanya dalam hitungan menit saja.

Mencari duit untuk memenuhi kebutuhan itu sah-sah saja, tapi jangan sampai menjual kekayaan negara. Menjual kekayaan negara? NGAWUR saja! Mungkin begitu Anda akan protes kepada saya. Tak mengapa, itu sah saja dan bisa dibenarkan akan halnya. Sebab barangkali yang dimaksud kekayaan negara itu ya sebatas pulau-pulau, BUMN, barang tambang dan lain sebagainya. Ayam hutan boleh saja Anda reken bukan sebagai kekayaan negara. Tapi jangan salahkan pula jika kami menganggap dan menilai ayam hutan adalah kekayaan negara yang tiada bernilai harganya. Negara mana selain negara kita yang memiliki kekayaan alam berupa Ayam Hutan Hijau (green jungle fowl/Gallus varius) yang bahkan diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma? Relakah anda jika dikemudian hari nanti ayam hutan tak bisa lagi kita lihat di negara kita ini dan bahkan lestari di luar negeri? Jika anak cucu kita kelak ingin menikmati keindahan tampilan dan suara ayam hutan kemudian butuh duit jutaan hanya karena harus ke luar negeri atau jika harus membeli, harganya sudah tak masuk akal lagi?

Ah, itu kekhawatiran yang berlebihan, terlalu jauh berpikir. Kekayaan yang diberikan Tuhan melalui alam bukankah untuk dimanfaatkan? Mungkin begitu juga yang Anda pikirkan. Benar Kawan, benar. Tetapi ada yang perlu diingat, jangan berlebihan dan apalagi dalam mengeksploitasi terkesan kebablasan. ayam hutan memang termasuk sumber daya alam yang bisa diperbaharui, namun jika tanpa perhitungan dan kebijaksanaan dalam pemanfaatan suatu saat bisa jadi kita akan kehabisan bahan. Pada akhirnya ayam hutan hilang dari negeri kita bukan sebatas sebuah hayalan. Apakah itu yang Anda inginkan?

Ah, yang kita ambil kan hanya sebagian, sedang jumlah ayam hutan di habitat aslinya sangat banyak dan tak mungkin bisa kita habiskan. Bukankah begitu yang akan Anda katakan, Kawan? Sebentar Kawan, mari sedikit kita jernihkan pikiran. Anda tahu burung pleci si burung kacamata? Atau burung penthet si thehet thoet, Branjangan yang saat dulu sering beterbangan di sawah dan ladang? pada ke mana mereka sekarang? Ya, salah satunya karena perburuan hewan. alasan bahwa di alam, satwa tak mungkin habis karena selalu berkembang biak adalah salah. Ketahuilah bahwa mereka diburu menurut deret ukur sedangkan dalam berkembang biak masuk dalam hitungan deret hitung. Tak akan bisa seimbang antara keduanya; Perkembangbiakan dan perburuan.

Lalu apa salahnya berburu ayam hutan untuk kebutuhan makan? Begitu mungkin Anda juga akan mengajukan pertanyaan. Eh, Kawan. Jika hanya kebutuhan daging untuk dimakan, tak perlu kiranya kita memburu ayam hutan. Datanglah ke saya atau mereka yang berkecimpung dalam usaha pelestarian. Jika hanya daging atau telor ayam, masih bisa kita usahakan. tetapi ika kemudian setiap hari Anda mendatangi kami untuk minta jatah daging ayam dengan alasan kebutuhan makan, tentu itu tidak masuk akal dan gila nggak ketulungan tetapi, pun demikian, jika memang itu yang anda inginkan entah dengan jalan apa akan tetap kami usahakan. Catatannya, jangan lagi berburu ayam hutan. Ingat kawan, jangan habiskan kekayaan alam di negeri kita yang sudah Tuhan berikan.

Tinggalkan Balasan