TELOR AHH: Bolehkah Diambil?

Perdebatan antara 2 kubu yang menyoal tentang kelestarian ayam hutan di habitat aslinya hingga sekarang masih saja seru dan seakan tak akan pernah berakhir. Meski sudah berulangkali dibahas di media sosial dengan perdebatan yang maha seru dan menegangkan, namun persoalan ini seakan tak mau untuk diakhiri. Satu orang paham, muncul pendatang baru yang hadir dengan semangat membara seakan baru saja membaca “AKU” karya Chairil Anwar. Melihat postingan ayam hutan yang mati bersebelahan dengan sebiji senapan angin atau postingan berupa telor ayam hutan asli dari kebon mereka langsung merespon dengan sepeuh semangat yang begitu membara. “Lestarikan Ayam Hutan di habitat asliya!” begitu kira-kira teriakan keras yang keluar dari lubuk hati terdalamnya. Patut diapresiasi, namun semangat mudanya masih perlu kita arahkan untuk termungkinkan lebih terkendali. Khawatirnya justru salah arah menjadi perdebatan yang berujung pada permusuhan yang tak berkesudahan. Sungguh dibutuhkan sebuah kearifan yang muncul dari ketuaan paham.

Kembali ke pertanyaan, “Bolehkan telor ayam hutan di habitat aslinya kita panen?” jika pertanyaan itu harus saya jawab, maka jawaban yang saya berikan adalah, “Boleh! Silahkan saja.” Sebab apa? Ada beberapa alasan yang bisa saya berikan. Namun sebelum jauh membaca, sebaiknya Anda pahami bahwa ini hanya sebatas pendapat saya pribadi berdasar pengalaman dan wawasan yang saya dapatkan selama ini. Bisa jadi benar, namun tak menutup kemungkinan adanya kesalahan. semua boleh berpendapat, silahkan saja selama bisa kita pertanggungjawabkan sumbernya.

Berikut saya berikan beberapa alasan mengapa telor ayam hutan boleh diambil dan tak akan membahayakan kelestariannya, dalam arti tak berpengaruh pada jumlah populasi di habitat aslinya. Pertama, Ayam Hutan berkembang biak hanya sekali dalam setahun. Artinya dia akan bertelor pada musimnya lalu dierami hingga menetas dan di”emong“nya hingga sekian waktu untuk kemudian bertelor kembali di tahun berikutnya. Nah, yang perlu diperhatikan adalah “Ayam Hutan berkembang biak sekali dalam setahun.” jadi bukan pada masalah bertelornya. Artinya, jika dia bertelor musim itu (rata-rata 4-6 butir) dan lalu telornya hilang sebelum menetas, dia akan bertelor lagi di lain tempat lalu mengerami hingga berhasil menetas. Jika dia sudah berhasil mengerami telornya hingga menetas dan di”emong” , maka dia baru akan bertelor lagi di musim tahun berikutnya. jadi ambil saja jika menemukan telor, dia akan aman. Tapi jangan didadar ya, ambil lalu tetaskan di rumah dan piara hingga dewasa untuk bahan breeding/ternak ayam hutan.

Kedua, tak ada yang dengan sengaja menemu telor ayam hutan di habitat aslinya. Cobalah berburu telor ayam hutan di hutan. Anda akan kesulitan mendapatkannya. Sebab apa? Sebab mereka bertelor tidak pada satu tempat yang sengaja kita persiapkan. Ayam hutan bertelor di tempat yang tersembunyi dan termungkinkan aman dari ancaman predator atau makhluk lain. Sejauh pengalaman saya bertemu dengan para penetas telor, mereka bukan mencari sendiri telornya di hutan. akan tetapi membeli dari para petani/pencari rumput yang secara tak sengaja menemu telor saat merumput atau mengolah ladang.

Ketiga, jika telor itu tidak kita ambil maka ada kemungkinan induk ayam hutan tak akan kembali mengerami telor-telornya. Dia akan berpindah tempat untuk bertelor kembali. Hal ini terjadi sebab si induk berpikir bahwa telor berada dalam keadaan bahaya sebab sudah diketahui keberadaannya oleh manusia. terlebih lagi jika telor itu kita pegang, bau keringat manusia tercim jelas dan itu dianggap sebagai ancaman. Sedikit catatan, memang tidak semua ayam hutan bersifat demikian. Ada juga ayam hutan yang ndableg, kembali mengerami meski sudah terusik. Ini mirip dengan puyuh liar yang meski berkali-kali diusik tetapi tetap kembali juga ke sarangnya.

Yang terakhir, mungkin Anda bertanya dan seakan tak percaya bahwa ayam hutan akan berpindah tempat dan bertelor kembali setelah hilang telor di periode pertamanya. Baik, begini Kawan. Jika Anda pernah memelihara ayam hutan hingga berkembang biak maka pasti akan tahu alasannya. Perlu diketahui bahwa di kandang terbatas, ayam hutan betina mampu bertelur hingga puluhan jumlahnya. Catatannya, setiap kali neolr kita ambil telornya. Maka dia tidak akan mengeram karena telornya hilang. Dia si induk ayam hutan akan kembali bertelor dn bertelor lagi hingga uritannya tak sanggup lagi berproduksi. Berbed jika dia dikasih sarang dan mau bertelor di sarangnya. Dia hanya akan bertelor maks 6 butir, mengeram dan lalu momong anaknya hingga sekian waktu.

Begitu nggi, Kawan baikku. Semoga bisa dipahami. ada masalah lain lagi?

Tinggalkan Balasan